<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://jurnalishumanis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 May 2009 15:26:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jurnalishumanis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jurnalishumanis.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jurnalishumanis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gelisah Menggugat Tuhan</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2009/05/29/gelisah-menggugat-tuhan/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2009/05/29/gelisah-menggugat-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 15:22:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Putu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Hidup memang kadangkala diwarnai sesuatu yang tak terhindarkan, the unavoidable. Saat kita yakin tentang sesuatu dan bahkan merasa aman dengan apa yang terjadi di sekitar kita, tiba-tiba semuanya harus hancur berkeping-keping. Padahal, kita telah sampai pada suatu kepercayaan dan ketenangan tertentu hingga berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Beberapa orang melihat ini sebagai sebuah tragedi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=88&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><img alt="Buku The Fifth Mountain" src="http://images.pulaubiruku.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/RkXURAoKCmwAADfWsLw1/Cover-Resensi-The-Fifth.JPG?et=KO1yc%2Cl3%2BlDXm%2BsodkJNDA&amp;nmid=41951333" title="Paulo Coelho" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Buku The Fifth Mountain</p></div>
<p>Hidup memang kadangkala diwarnai sesuatu yang tak terhindarkan, the unavoidable. Saat kita yakin tentang sesuatu dan bahkan merasa aman dengan apa yang terjadi di sekitar kita, tiba-tiba semuanya harus hancur berkeping-keping. Padahal, kita telah sampai pada suatu kepercayaan dan ketenangan tertentu hingga berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. <span id="more-88"></span></p>
<p>Beberapa orang melihat ini sebagai sebuah tragedi. Tapi penilaian ini menunjukkan bagaimana kita mempersepsi kejadian tersebut. Kita seolah menolaknya. Tragedi selalu membawa kita pada pengertian yang menyedihkan dan menyayat hati: keputusasaan dan duka cita. </p>
<p>Namun, Paulo Coelho dalam novel The Fifth Mountain menyebutnya sebagai “yang tak terhindarkan”. Sebuah istilah di mana kita ditempatkan sebagai lakon yang harus mengatasi dan menyiasatinya. Sebab, “yang tak terhindarkan” memang akan selalu hadir. Hal-hal yang bahkan kita tidak memperkirakan sebelumnya: kematian, perubahan, kejadian-kejadian penting hidup kita, semuanya terjadi tanpa kita pernah bisa menghindarinya.</p>
<p>Kenapa harus ada “yang tak terhindarkan” saat manusia justru merasa bahagia dengan apa yang sudah mapan dan stabil? Kenapa Tuhan tidak membiarkan manusia bahagia dengan apa yang mereka sudah merasa bahagia atau puas karenanya? Kenapa seolah Tuhan ingin selalu “mengerjai” manusia justru saat mereka merasa tenang? Pertanyaan itu muncul seiring manusia tak mampu lagi mengatasi “yang tak terhindarkan”. </p>
<p>Saat usaha-usaha yang bersifat etis-duniawi sudah dilakukan dan tidak ada perubahan atau masih tidak sesuai yang diharapkan, manusia mulai mempertanyakan kemurahan hati Tuhan. Saat seharusnya Tuhan mendampingi manusia yang menderita dan tergerus oleh “yang tak terhindarkan”, kenapa Dia tak jua muncul? Atau lebih tepatnya, kenapa Tuhan seolah meninggalkan manusia dengan tidak memberikan perubahan pada apa yang sudah diusahakan? </p>
<p>Itulah gelisah pikir Elia, tokoh utama dalam novel karya penulis asal Brasil ini. Dalam mengemban tugas kenabiannya ia tak habis pikir, kenapa semua ini terjadi padanya. Hingga akhirnya, ia memberontak terhadap takdir Tuhan dan berjalan dengan caranya sendiri. Betapapun, pemberontakannya kepada takdir Tuhan justru membawanya kepada takdir-Nya yang lain. Di mana takdir tersebut, justru yang diharapkan Tuhan untuk terjadi setelah, tentu saja, “yang tak terhindarkan”.</p>
<p>Inilah yang menarik dari Paulo Coelho. Dari beberapa novelnya seperti The Zahir dan yang paling laris Alchemist, menunjukkan gaya penceritaan yang mudah dipahami dan seolah selalu membawa kita pada satu kesimpulan yang sama: sebuah perjalanan menuju sesuatu, entah harapan, cita-cita, mimpi, dan yang paling mengesankan, pemahaman baru tentang kehidupan. Yah, memang agak berbau fisafat. Namun, tak usah mual apalagi gusar mendengar kata filsafat. Model filsafat yang diusung Paulo Coelho cenderung mudah dipahami dan cukup praktis. </p>
<p>Alchemist, karyanya yang laris dan sudah diterjemahkan di lebih 80-an bahasa di dunia itu, menceritakan tentang seorang gembala yang berada dalam perjalanan menyongsong mimpi-mimpinya. Sang gembala bermimpi tentang harta yang melimpah di dalam piramid-piramid. Ia memang mengejar harta karun itu, tapi justru perjalanan panjang mendapatkan harta itulah yang lebih berharga daripada harta itu sendiri. </p>
<p>The Zahir lain lagi. Ini tentang seorang suami yang kebingungan dengan kepergian istrinya. Perjalanan mencari sang istri justru membuatnya semakin dewasa dalam memaknai relasi suami-istri dan definisinya tentang cinta. Perjalanan menjadi sesuatu yang lebih penting daripada tujuan perjalanan itu sendiri. Perjalanan, dengan segala dinamikanya, membuat manusia semakin dewasa. Namun, tentu saja, bergantung bagaimana kita memaknainya.</p>
<p>Dalam perjalanan menuju sesuatu itu, seringkali manusia dipenuhi keragu-raguan, kecemasan, kegalauan, dan kebingungan. Dalam novel The Zahir Paulo Coelho mengungkapkan bahwa kehidupan memang selalu berisi ketidakpastian. Ketidakpastian itulah membuat manusia seringkali ragu. Mereka yang putus asa tak mau berurusan dengan keraguan dan ketidakpastian kehidupan. </p>
<p>Mereka lebih memilih kepastian yang akhirnya membawa mereka pada nilai-nilai absolut. Padahal hal itu justru membuat kita semakin tak punya daya merespon “yang tak terhindarkan”. Hal-hal ini akan selalu mewarnai perjalanan kehidupan manusia, siapapun tanpa terkecuali.</p>
<p>Maka Tuhan pun memberi ruang-ruang perjalanan untuk setiap manusia. Dalam setiap ambisi manusia, kesulitan dan persoalan menjadi sesuatu yang terberi. Tak ada daya untuk menolak permasalahan. Dalam perjalanan menuju takdir, setiap mereka akan dibebani permasalahan. Hingga ketika mereka mencapai apa yang mereka hasratkan, secara mental-spiritual mereka sudah siap. </p>
<p>Tuhan memberi beban-beban “yang tak terhindarkan” adalah untuk mempersiapkan manusia menuju satu level kehidupan yang lain. Level kehidupan di mana mereka seolah menghadapi persoalan berjenjang yang membuat mereka sampai pada titik kedewasaan tertentu. Karena itu, perubahan-perubahan lingkungan, bahkan kematian yang merupakan satu rangkaian “yang tak terhindarkan” hadir tidak untuk dihindari. Justru inilah yang membuat manusia semakin mampu memahami kehidupan secara dewasa.</p>
<p>Banyak ragam sikap dalam merespon “yang tak terhindarkan”. Ada yang menghabiskan waktu dengan menyalahkan orang lain (termasuk Tuhan). Ada yang semakin takut dengan kehidupan yang kadung dianggap kejam. Ada yang mulai mengalami “metamorfosis”, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Apapun itu, setiap sikap akan selalu menunjukkan sejauh mana kita memahami kehidupan. Apalagi kata Albus Dumbledore, Kepala Sekolah Sihir Hogwarts yang terkenal itu, setiap pilihan hidup menunjukkan seperti apa diri kita sebenarnya. </p>
<p>Konflik batin Elia mengemuka manakala kegagalan merengkuh takdirnya. Pertemuan dengan seorang janda menjebak dia pada rasa cintanya sendiri. Perasaan itu membuatnya cemas dan galau. Ditambah lagi kematian beratus-ratus orang dalam perang yang mestinya bisa ia hindarkan. </p>
<p>Keputusasaan merambati kepercayaan dirinya yang semakin luluh karena keraguan. Ia telah membiarkan nyawa sekian banyak orang melayang. Ia merasa tak pantas menjadi nabi. Ia ingin kembali menjadi orang-orang biasa dan kembali pada pekerjaannya sebagai tukang kayu. Nabi, orang kerapkali menganggapnya sebagai profesi mulia, ternyata hanya membawanya pada tekanan-tekanan kehidupan yang luar biasa berat. </p>
<p>Ia mulai mempertanyakan Tuhan. Nabi Elia telah sekian lama selalu menuruti kehendak Tuhan, tapi kenapa semuanya berujung pada kebinasaan dan kekacauan. Kalau memang Tuhan ingin kedamaian untuk manusia, kenapa Dia tidak menciptakannya sendiri? Kenapa orang-orang yang mengusahakan kedamaian tidak dipermudah usahanya? Kenapa justru orang-orang ini menghadapi serangkaian masalah yang seolah tak ada habisnya? </p>
<p>Batin Elia berkecamuk. Elia ternyata lemah menghadapi kegagalan. Tapi inilah yang disiapkan Tuhan sebelum Elia menerima takdirnya yang lain. Takdir yang hanya mampu dilewati ketika ia sudah mampu melewati permasalahannya ini.</p>
<p>Novel ini diambil dari sebuah episode di Alkitab, tentang seorang nabi yang datang jauh sebelum Yesus tiba di dunia. Pada zaman itu, banyak nabi yang muncul di tengah masyarakat. Namun, loyalitas mereka kepada Tuhan Yang Satu luntur di bawah ancaman Ratu Izebel. Sosok ratu kejam yang berambisi mengubah kepercayaan masyarakat Fenisia, atau Phoenicia dalam bahasa aslinya, agar tunduk pada perintahnya. </p>
<p>Ratu lalim ini memaksakan penyembahan terhadap dewa-dewa di Gunung Kelima menjadi sesembahan satu-satunya masyarakat Fenisia. Sebagai konsekuensi, banyak nabi yang dibunuh karena bersikukuh dengan kepercayaannya. Namun, tak sedikit pula yang berkompromi. Sang ratu sendiri cukup cerdas. Pernikahannya dengan Raja Fenisia adalah salah satu strateginya menguasai kota besar tersebut. </p>
<p>Novel ini patut diacungi jempol dalam mengajarkan kita tentang arti kesulitan hidup. Semangat untuk tetap “hidup” dalam gelimang kesulitan dan berusaha menjadi manusia-manusia yang mengatasi—boleh jadi ini membawa kita pada konsep ubermenschnya Fredrich Nietsche, filosof Jerman yang meninggal dalam keadaan gila itu—menggugah emosi kita.</p>
<p>Tak usah gusar dengan istilah semacam nabi, bani, dan kaum di novel ini. Paulo Coelho tak hendak berkhotbah. Karya sastra, menurut seorang kritikus, adalah karya lokal yang bersifat universal. Itulah kenapa, penulis yang kerap menerima penghargaan itu hanya ingin menyampaikan nilai-nilai universal di mana semua orang pasti pernah mengalaminya. Keputusasaan, kegalauan, kegelisahan, siapa yang tak pernah merasakannya?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=88&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2009/05/29/gelisah-menggugat-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5b5a1d993f9dc18aa71f5f5037535ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">educenter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.pulaubiruku.multiply.com/image/2/photos/upload/300x300/RkXURAoKCmwAADfWsLw1/Cover-Resensi-The-Fifth.JPG?et=KO1yc%2Cl3%2BlDXm%2BsodkJNDA&#038;nmid=41951333" medium="image">
			<media:title type="html">Paulo Coelho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Bokong Siti</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/12/26/dahsyatnya-bokong-siti/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/12/26/dahsyatnya-bokong-siti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 02:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Putu</dc:creator>
				<category><![CDATA[rehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Bokong Siti memang dahsyat. Sekali senggol, efeknya bisa berhari-hari. Bahkan kalau sedang beruntung, bisa lebih dari dua minggu. Gara-gara mencium bokong Siti yang semok dan njentit itu, saya sampai harus rebahan di atas kasur sampai tiga hari. Peristiwa itu terjadi Selasa (16/12) pekan lalu. Sekitar pukul 17.00, saya melintas di Jalan Tunjungan dengan motor trail [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=77&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_84" class="wp-caption aligncenter" style="width: 190px"><img src="http://jurnalishumanis.files.wordpress.com/2008/12/homersimpson.jpg?w=468" alt="Kiss My Ass!" title="homersimpson"   class="size-full wp-image-84" /><p class="wp-caption-text">Kiss My Ass!</p></div>
<p>Bokong Siti memang dahsyat. Sekali senggol, efeknya bisa berhari-hari. Bahkan kalau sedang beruntung, bisa lebih dari dua minggu. Gara-gara mencium bokong Siti yang semok dan njentit itu, saya sampai harus rebahan di atas kasur sampai tiga hari.</p>
<p><span id="more-77"></span>Peristiwa itu terjadi Selasa (16/12) pekan lalu. Sekitar pukul 17.00, saya melintas di Jalan Tunjungan dengan motor trail saya, Honda Win 100. Lalu lintas macet. Motor dan mobil berjalan merambat berhimpit-himpitan. Gerimis turun. Langit temaram. Para pengguna jalan mulai resah. Mereka ingin segera sampai di rumah. </p>
<p>Tak terkecuali saya. Apalagi, pukul 17.00 adalah ’’garis kematian’’ bagi wartawan untuk menyetor minimal satu berita. Jika tidak, wartawan yang tak nyetor berita akan divonis tidak boleh libur selama satu minggu. Glek!</p>
<p>Menjelang pertigaan Embong Malang, saya melihat celah di ruas sebelah kanan motor. ’’Ini peluang,’’ pikirku. Dengan lincah dan sedikit mblayer, motor saya masukkan di sela-sela mobil-mobil itu. Benar juga, ada ruang kosong lumayan panjang di antara kemacetan. Sekitar 50 meter. </p>
<p>Motor saya yang legam itupun saya geber. Kencang. Tiba-tiba sekitar empat meter di depan, bokong Honda City (baca: Siti) sudah mapan dan njentit. Hitam dan semok. Dia berhenti! Saya segera menginjak pedal rem. Motor tak lekas berhenti. Malah meluncur semakin kencang. Orang-orang terdengar berteriak-teriak. Brak!</p>
<p> Roda depan motor trail warisan bapak saya itu mencium bokong Siti dan nyelempit di bawahnya. Tubuh saya terpelanting dari motor dan mendarat di kaca belakang mobil. Tangan saya merentang seperti memeluk mobil. Sementara, kepala saya yang masih berhelm, menempel pada kaca mobil dan melihat refleksi mata saya sendiri dari kaca itu. Posisi jatuh saya benar-benar mirip film-film laga. Tangan merentang dengan kaki kiri menekuk. Siap untuk digambar kapur dan ditulisi TKP! </p>
<p>Saya kemudian turun dari memeluk bokong Siti dan meminggirkan motor saya. Lalu lintas pun berjalan seperti biasa. Pengemudi Siti sempat melihat ke arah saya. Saya mengacungkan jempol dan memberi tanda dengan telapak tangan. ’’Tidak ada apa-apa, tenang saja,’’ kataku padanya. Dia pun pergi.</p>
<p>Selama dua hari, dahsyatnya bokong Siti tak berarti apa-apa. Hanya benjol di bawah dengkul. Saya masih bisa jalan. Tapi, hari ketiga suasana menjadi lain. Kaki mulai berat. Berjalan menjadi susah. Setelah saya lihat, ternyata yang bengkak tidak hanya bagian bawah dengkul. Tapi, punggung kaki, tungkai. Saking besar bengkak itu, mata kaki saya sampai tidak terlihat. Duh!</p>
<p>Tiga hari selanjutnya tidak liputan. Hanya tiduran di kasur kos-kosan. Kamis (25/12) mulai liputan lagi meski sedikit terpincang-pincang. Siti, Siti, bokongmu itu lho. Semok, njentit, dan bikin aboh!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=77&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/12/26/dahsyatnya-bokong-siti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5b5a1d993f9dc18aa71f5f5037535ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">educenter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalishumanis.files.wordpress.com/2008/12/homersimpson.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">homersimpson</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andalkan Nilai Nyata, Acuhkan Tren Pasar Saham</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/12/07/andalkan-nilai-nyata-acuhkan-tren-pasar-saham/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/12/07/andalkan-nilai-nyata-acuhkan-tren-pasar-saham/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 14:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agung Putu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Nilai sebuah perusahaan, kata dia, harus dilihat potensi, aset, dan peluang perusahaan untuk bisa berkembang.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=64&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><img class="aligncenter size-medium wp-image-67" title="bookaholic-warren-buffet1" src="http://jurnalishumanis.files.wordpress.com/2008/12/bookaholic-warren-buffet1.jpg?w=300&#038;h=234" alt="bookaholic-warren-buffet1" width="300" height="234" /></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Investasi tidak sama dengan berjudi. Investasi pun membutuhkan perhitungan cermat dan terencana. Buku biografi Warren Buffet ini menunjukannya kepada pembaca dalam bentuk komik. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Siapa tidak kenal Warren Buffet. Lelaki yang lahir pada 1930 ini dikenal sebagai investor paling sukses saat ini. Bahkan, beberapa orang kerap menyebut dia dengan nama ’’pahlawan super di bidang keuangan’’. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><span id="more-64"></span>Julukan itu bukan tanpa alasan. Buffet memang dikenal sebagai penyelamat perusahaan saat harganya sedang terjun bebas. Dia juga kerap memberikan keputusan-keputusan kontroversial dengan berinvestasi pada perusahaan yang sedang kolaps bahkan yang sudah mati separo. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Buffet memang tidak seperti kebanyakan investor. Dia pun bukan orang yang mudah termakan omongan ’’crowd’’. Buffet selalu memutuskan sesuatu berdasarkan otentisitas sikap dan prinsip-prinsip yang dia percayai.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Soal melihat nilai sebuah perusahaan misalnya. Umumnya investor memberi nilai pada sebuah perusahaan dengan melihat harga sahamnya di </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Wallstreet. Apabila harga saham sebuah perusahaan jatuh, maka perusahaan tersebut pasti sedang merugi dan karena itu sahamnya harus segera dijual. Begitu pula saat perusahaan sedang naik harga sahamnya. Para investor langsung memburu saham tersebut agar bisa dijual saat marjin harga sudah lumayan.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Tidak, kata Buffet. Bukan begitu cara melihat nilai sebuah perusahaan. Nilai sebuah perusahaan, kata dia, harus dilihat potensi, aset, dan peluang perusahaan untuk bisa berkembang. Karena itu, menilai perusahaan hanya dari tren harga saham di Wallstreet tak bisa dijadikan sebagai ukuran. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Buffet percaya, ada nilai nyata dan nilai tak nyata. Nilai nyata adalah nilai sebenarnya yang dimiliki sebuah perusahaan. Ini dilihat dari kemampuan para pejabat teras, aset, SDM, dan prospek perusahaan tersebut. Sementara, nilai tak nyata adalah perkiraan nilai perusahaan berdasarkan harga saham di bursa saham semata.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Dalam melakukan investasi, Buffet selalu melihat nilai nyata sebuah perusahaan. Sebab, dia percaya bahwa nilai tak nyata akan selalu mengikuti nilai nyata. Nilai tak nyata boleh turun atau bahkan melejit naik. Namun, nilai nyata tak bisa dibohongi. Nilai tak nyata, meski harganya melangit, lambat laun akan mengikuti nilai nyata.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Begitulah Buffet. Dia investor yang tak pernah terpengaruh tren pasar. Bahkan, dia adalah investor yang justru banyak memanfaatkan tren harga saham. Saat tren harga saham sebuah perusahaan sedang jatuh, dia akan membeli harga saham dalam jumlah siknifikan. Tapi, tentu, itu setelah menganalisis nilai nyata perusahaan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Jadilah, Buffet investor paling sukses di abad ini. Dia sudah menyelamatkan banyak perusahaan di lantai bursa dengan membeli saham-sahamnya. Tapi, jangan salah. Buffet bukan orang yang hanya mengandalkan keuntungan dari transaksi jual-beli saham. Perusahaan tempat dia berinvestasi selalu dia perbaiki dan kembangkan hingga sahamnya kembali meroket. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Dalam buku komik ini, ada tujuh rambu yang harus diperhatikan menurut Buffet sebelum seseorang berinvestasi. Ini bukan asal omong. Semua aturan-aturan ini adalah hasil dari pengalamannya berkelana di dunia investasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Mengetahui pasti kualitas sebuah perusahaan dan manajer-manajer puncaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><span>2. </span></span><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Para pemegang saham bukanlah manajer. Mereka harus secara tulus menyerahkan proses berjalannya perusahaan kepada para manajer yang cakap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Jangan berinvestasi di bisnis yang tak anda mengerti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Jangan pernah melanggar hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><span>5. </span></span><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Pemilik adalah pemilik, manajer adalah manajer. Keduanya harus bekerja sebagai rekanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Jaga jarak dengan pasar. Anda akan memahami bisnis lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">7. Jangan melanggar hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Buku ini layak dibaca. Tak hanya bagi para pekerja saham dan mereka para ahli ekonomi. Orang-orang awam pun perlu memahami bagaimana dunia kapitalisme itu berputar. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Sayangnya, beberapa istilah-istilah asing tak banyak dijelaskan di dalam buku komik ini. Penceritaannya pun kadang kurang runtut. Begitu juga karakter kartun Buffet. Ayano Morio, komikus yang menggarap buku ini, kurang konsisten terhadap karakter Buffet. Akibatnya, pembaca pun bingung dan jelas kurang nyaman melahap buku terbitan Elex Media Komputindo ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><strong>Data Buku</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Judul Buku: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">An Illustrated Biography Warren Buffet </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">(Seri Tokoh Investasi Bisnis) </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Penulis: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Ayano Morio</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">Penerbit:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;" lang="IN">PT Elex Media Komputindo, 2008</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=64&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/12/07/andalkan-nilai-nyata-acuhkan-tren-pasar-saham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e5b5a1d993f9dc18aa71f5f5037535ff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">educenter</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalishumanis.files.wordpress.com/2008/12/bookaholic-warren-buffet1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bookaholic-warren-buffet1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Dakwaan Sugik Tidak Jelas</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/05/surat-dakwaan-sugik-tidak-jelas/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/05/surat-dakwaan-sugik-tidak-jelas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 07:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desperatejournalist</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan]]></category>
		<category><![CDATA[Salah Tangkap Jombang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[JOMBANG – Sidang pembacaan pembelaan Maman Sugianto alias Sugik berlangsung, Kamis (4/9) di Pengadilan Negeri Jombang. Terdakwa kasus pembunuhan Asrori alias Lucky yang mayatnya ditemukan di kebun tebu Braan, Bandar Kedungmulyo itu menuntut pembatalan surat dakwaan karena banyak ditemukan ketidaksesuaian. Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Kartijono itu dimulai pukul 11.15. Jaksa Penuntut Umum (JPU) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=45&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp"><a href="http://jurnalishumanis.files.wordpress.com/2008/09/sugik1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-47" title="sugik1" src="http://jurnalishumanis.files.wordpress.com/2008/09/sugik1.jpg?w=468" alt=""   /></a></div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">JOMBANG – Sidang pembacaan pembelaan Maman Sugianto alias Sugik berlangsung, Kamis (4/9) di Pengadilan Negeri Jombang. Terdakwa kasus pembunuhan Asrori alias Lucky yang mayatnya ditemukan di kebun tebu Braan, Bandar Kedungmulyo itu menuntut pembatalan surat dakwaan karena banyak ditemukan ketidaksesuaian. </span></p>
<p><span id="more-45"></span>Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Kartijono itu dimulai pukul 11.15. Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diketuai oleh Endang Dwi Rahayu sudah tiba di ruang sidang beberapa saat sebelumnya. Sementara, pengacara Sugik Muhammad Dhofir sudah terlebih dahulu berada di ruang sidang sebelum akhirnya Slamet Yuono dan Aldila Chereta Warganda dari Otto Cornelis Kaligis and Associates memasuki ruangan. </p>
<p>Slamet dan Aldila adalah dua pengacara yang datang mendampingi Sugik. Keduanya merupakan perwakilan dari 19 anggota tim pengacara OC Kaligis. Bermodalkan surat kuasa dari Sugik, mereka mendampingi bapak satu anak yang diduga korban salah tangkap itu. </p>
<p>Setelah sidang dibuka oleh hakim ketua, Dhofir dan Slamet bergantian membacakan eksepsi Sugik. Pembacaan pembelaan yang berjudul <em>Terdakwa Korban Pelanggaran HAM oleh Penegak Keadilan </em>itu berlangsung hingga sekitar 30 menit. </p>
<p>Dalam eksepsinya, tim pengacara menilai surat dakwaan yang dibuat Kejaksaan Negeri Jombang dengan nomor PDM-633/Jomba/08.08 itu tidak menunjukkan dengan jelas keterlibatan Sugik. ’’Isi surat dakwaan tidak cermat, lengkap, dan jelas. Ini namanya <em>obscure</em>,’’ tegas Slamet.</p>
<p>Slamet mengatakan, di dalam surat dakwaan tersebut banyak ditemukan ketidakkonsistenan, baik dalam dakwaan primer maupun subsidair. ’’Tidak pernah disebutkan dengan jelas, apakah Sugik sebagai pelaku, orang yang menyuruh melakukan, atau orang yang terlibat,’’ tuturnya.</p>
<p>Bahkan, lanjut Slamet, redaksional kedua dakwaan tersebut sama persis, hampir tidak ada perbedaan. Padahal dalam dakwaan primer dan subsidair, sugik dijerat dengan pasal yang berbeda. </p>
<p>Salah seorang anggota tim pembela Sugik, Dhofir, mencontohkan dalam dakwaan primair. Di situ Sugik dikenai pelanggaran pasal 340 jo pasal 55 ayat 1 tentang pembunuhan berencana. Sementara, di dakwaan subsidair, dia dikenai pelanggaran pasal 338 tentang pembunuhan biasa. </p>
<p>’’Anehnya, uraian kronologi di masing-masing dakwaan sama. Padahal peran Sugik di masing-masing dakwaan <em>kan </em>mestinya berbeda,’’ katanya. </p>
<p>Dhofir menilai, surat dakwaan tersebut dibuat asal-asalan. ’’Kalau semua pihak obyektif dengan aturan dalam KUHAP dan memadukan uraian dalam surat dakwaan, di situ banyak sekali ketidakcermatan,’’ terang Dhofir</p>
<p>Pengacara yang mendampingi Sugik sejak awal proses persidangan itu menilai, di dalam surat dakwaan yang dibuat JPU banyak ketidakjelasan <span> </span>mengenai detail kronologi. </p>
<p>Slamet menambahkan, surat dakwaan tersebut mestinya sudah batal sejak identitas mayat yang ditemukan di kebun tebu tersebut ternyata bukan korban terdakwa. ’’Ini berarti, telah terjadi <em>error in persona</em> alias salah orang. Bagaimana tidak,<em> </em>ternyata mayat yang diyakini sebagai korban terdakwa ternyata bukan,’’ katanya.</p>
<p>Apalagi, lanjut Slamet, hingga saat ini, pemeriksaan yang mendetail tentang identitas mayat tersebut belum didapatkan. Bahkan, DNA mayat tersebut cocok dengan mayat yang ditemukan di belakang rumah Very Idham Henyansyah alias Ryan. </p>
<p>’Ini berarti identitas jenasah yang ditemukan di kebun tebu bukan Asrori. Berarti, dakwaan terhadap Sugik batal demi hukum,’’ tegas pengacara bertubuh subur itu. Karena itu, selama menjalani proses sidang, tim pembela Sugik kemarin menuntut pengalihan tahanan terhadap Sugik. Sebab, keterlibatan Sugik dalam pembunuhan Asrori dianggap belum jelas. </p>
<p>Di sisi lain, kejanggalan dalam kasus keterlibatan Sugik masih belum terjawab. Surat dakwaan menyebutkan bahwa Asrori dipukul di bagian belakang kepalanya. Namun, dalam dokumen visum yang dikeluarkan dr Rudy Prayudiya Arianto tidak didapati trauma maupun bekas pukulan di leher maupun kepala. </p>
<p>Selain itu, ciri-ciri jenasah di kebun tebu itu pun masih diragukan akurasinya dengan ciri-ciri Asrori. Pihak keluarga mengatakan bahwa warga desa Kalangsemanding itu memiliki gigi depan gingsul. ’’Tapi, dalam visum, jenasah bergigi tonggos. Ini <em>kan </em>tidak sama,’’ katanya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=45&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/05/surat-dakwaan-sugik-tidak-jelas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8840ed30a05c01ba96867f93472af391?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalishumanis.files.wordpress.com/2008/09/sugik1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sugik1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aliran Uang di Persidangan Kemat Cs</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/aliran-uang-di-persidangan-kemat-cs/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/aliran-uang-di-persidangan-kemat-cs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 16:28:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desperatejournalist</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Selama proses peradilan Imam Chambali alias Kemat selama ini, pihak Kejaksaan Negeri Jombang diduga menerima sejumlah uang dari pihak keluarga Kemat. Itu dilakukan agar proses peradilan lancar Hal itu diungkapkan Hariyanto, salah seorang keponakan Kemat, saat membesuk Kemat di Lembaga Pemasyarakatan Jombang, Senin (2/9). Lelaki yang bekerja sebagai supir itu mengatakan, tiap kali sidang, pihaknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=37&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 237px"><a href="http://images.pulaubiruku.multiply.com/image/2/photos/7/400x400/7/Endang-Dwi.JPG?et=TWp2g3s9JjM8nbGykpeSfQ&amp;nmid=16551671"><img src="http://images.pulaubiruku.multiply.com/image/2/photos/7/400x400/7/Endang-Dwi.JPG?et=TWp2g3s9JjM8nbGykpeSfQ&amp;nmid=16551671" alt="Endang Dwi" width="227" height="280" /></a><p class="wp-caption-text">Endang Dwi</p></div>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Selama proses peradilan <span> </span>Imam Chambali alias Kemat selama ini, pihak Kejaksaan Negeri Jombang diduga menerima sejumlah uang dari pihak keluarga Kemat. Itu dilakukan agar proses peradilan lancar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><span id="more-37"></span>Hal itu diungkapkan Hariyanto, salah seorang keponakan Kemat, saat membesuk Kemat di Lembaga Pemasyarakatan Jombang, Senin (2/9). Lelaki yang bekerja sebagai supir itu mengatakan, tiap kali sidang, pihaknya selalu mengeluarkan sejumlah uang. ’’Uang itu dikasihkan untuk semuanya. Mulai dari hakim, jaksa, hingga pengacara,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Pria berambut gondrong itu melanjutkan, pihak-pihak tersebut tidak pernah menampik uang yang diberikan. Mereka senantiasaa menerima uang tersebut. Namun, kata Hariyanto, pihaknya tak pernah meminta kuitansi atau bukti pembayaran terhadap uang yang dibayarkannya. ’’Itu sayangnya. Tapi, tiap sidang, kita memang memberikan uang ke mereka,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Hal senada diungkapkan Suciati, keponakan Kemat lainnya. Wanita berambut panjang itu menuturkan, kakak perempuan Kemat, Karomah, bahkan mendatangi rumah salah seorang anggota Jaksa Penuntut Umum (JPU) bernama Endang Dwi Rahayu dan memberikan sejumlah uang. ’’Saya lupa kapan tanggalnya. Yang jelas, uang yang diberikan sampai Rp 4 juta,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Sejumlah uang lainnya pun diberikan. Namun, Suciati tak bisa menyebut berapa saja uang yang diberikan itu. Sebab, hampir tiap sidang yang digelar, pihaknya selalu memberikan uang untuk hampir semua aparat hukum yang hadir di persidangan. ’’Kadang ada yang kita kasih Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Haryanto menambahkan, untuk keperluan itu, pihak keluarga Kemat sudah banyak menjual barang-barang beharga. Antara lain sawah yang dijual hingga laku Rp 26 juta, kemudian sepeda motor Rp 8 juta, dan beberapa peralatan salon milik Kemat lainnya. ’’Semua untuk membiayai sidang Kemat,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Namun, kata Haryanto, uang tersebut tidak mampu membantu proses persidangan Kemat. Bahkan, sidang Kemat pun dia nilai dipersulit dengan adanya penundaan-penundaan. ’’Kalau memang tidak berpengaruh kepada sidang, kenapa uang itu <em>kok </em>diterima juga sama mereka,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Pernyataan itu dibantah Kajari Jombang Sumardi. Dia mengklaim seluruh jajarannya adalah orang-orang bersih. ’’Kami tidak mungkin melakukan itu,’’ tegasnya saat ditemui di ruang kerjanya di kantor Kejaksaan Negeri Jombang, Jalan Wachid Hasyim.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Hal senada diungkapkan Endang Dwi Rahayu, salah seorang anggota JPU yang disebut namanya oleh pihak keluarga Kemat. Dia membantah bahwa dirinya pernah didatangi keluarga Kemat dan menerima sejumlah uang. ’’Saya bersih. Saya tidak mungkin menerima itu,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=37&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/aliran-uang-di-persidangan-kemat-cs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8840ed30a05c01ba96867f93472af391?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.pulaubiruku.multiply.com/image/2/photos/7/400x400/7/Endang-Dwi.JPG?et=TWp2g3s9JjM8nbGykpeSfQ&#038;nmid=16551671" medium="image">
			<media:title type="html">Endang Dwi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sering Digebuki Polisi, Devid Stres</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/sering-digebuki-polisi-devid-stres/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/sering-digebuki-polisi-devid-stres/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 15:54:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desperatejournalist</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu (29/8), Siti Rokhanah dan Sumarlik menjenguk Devid Eko Prianto, terpidana 12 tahun pembunuhan Asrori di Lembaga Pemasyarakatan Jombang. Mereka datang sekitar pukul 09.00. Rokhanah adalah ibu Devid, sementara Sumarlik adalah bibi yang memiliki hubungan dekat dengan lelaki 18 tahun itu. Pertemuan dua warga Desa Ngemplak, Dusun Pagerwojo, Kecamatan Perak keduanya dengan Devid sangat mengharukan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=34&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Sabtu (29/8), Siti Rokhanah dan Sumarlik menjenguk Devid Eko Prianto, terpidana 12 tahun pembunuhan Asrori di Lembaga Pemasyarakatan Jombang. Mereka datang sekitar pukul </span></strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><strong>09.00. Rokhanah adalah ibu Devid, sementara Sumarlik adalah bibi yang memiliki hubungan dekat dengan lelaki 18 tahun itu.</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><span id="more-34"></span>Pertemuan dua warga Desa Ngemplak, Dusun Pagerwojo, Kecamatan Perak keduanya dengan Devid sangat mengharukan. Sebab, begitu bertemu, Sumarlik langsung memeluk Devid. Keponakannya itupun seperti bermanja pada bibinya itu. ’’Kami lama tidak bertemu. </span><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Hampir satu tahun,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Salah seorang petugas yang melihat kejadian tersebut pun ikut <em>nggojlok</em>. ’’<em>Ya</em> <em>ngono</em>. <em>Saiki</em> <em>wes dadi selebriti</em>, sering disyuting,’’ kata wanita yang akrab dipanggil Marlik itu menirukan petugas lapas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Rokhanah menuturkan, selama berada di tahanan, Devid terkesan bingung. Dia tidak percaya harus menjalani hukuman selama 12 tahun. ’’Saya <em>ndak </em>tahu apa-apa <em>kok </em>harus dipenjara,’’ kata Rokhanah menirukan penuturan anak pertamanya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Ditemui di rumahnya, Rokhanah mengaku tak percaya bahwa anaknya terlibat dalam pembunuhan. Sebab, lelaki lulusan SMK PGRI 1 Kertosono dikenal tidak banyak tingkah. Apalagi hubungan dalam keluarga pun baik-baik saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">’’Kami biasa <em>ngumpul </em>ngobrol di ruang tamu sambil <em>lesehan</em>. Ada apa saja Devid pasti ngomong. Kalau dia sampai membunuh orang itu pasti dia kelihatan susah atau takut dan bingung. Anaknya <em>mendel kok</em>. <em>Nurut </em>sama orang tua,’’ kata Rokhanah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Apalagi, Rokhanah mengaku tak pernah mendapati anaknya itu memiliki orientasi seksual berbeda. Sebab, dari perangainya Devid tidak tampak <em>lembeng</em>. Pergaulannya pun luas. ’’Sama anak-anak sini dia juga suka bergaul,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Rokhanah mengakui, selepas lulus dari SMK, Devid bekerja di salon milik Kemat. Karena tidak kerasan, lelaki berkulit putih itu ikut salah seorang pamannya. Bekerja dengan paman pun tak lama. Devid akhirnya kembali bekerja dengan Kemat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Bekerja di salon, tutur Rokhanah, tidak banyak uang yang bisa didapat. Bahkan, setiap hari Devid hanya dijamin dengan makan. ’’Dia baru dapat duit kalau ada yang <em>nduwe gawe</em>,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Salon Kemat memang tak terlalu laris. Salon tersebut baru mendapat kucuran uang segar ketika ada yang menyewa Kemat sebagai tenaga perias atau peralatan pesta pernikahan. Devid pun hanya bekerja sebagai tenaga kasarnya saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Petaka terjadi setelah bulan puasa tahun lalu. Saat itu, Devid didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai petugas kepolisian Polsek Bandar Kedungmulyo. Dia mengatakan bahwa Devid sedang dicari-cari polisi. ’’Dia kemudian dikasih uang Rp 20 ribu untuk lari,’’ kata Rokhanah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Karena bingung, Devid menurut saja. Bahkan, dia sempat meminjam uang saudaranya sebesar Rp 10 ribu untuk pergi ke rumah neneknya di Tuban. ’’Dia tidak bilang apa-apa, katanya <em>pengen </em>ke rumah mbah,’’ ujar Rokhanah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Kemudian, pada 21 Oktober, petugas dari Polsek Bandar Kedungmulyo menangkap Devid setelah pulang dari Tuban. Kepada Rokhanah Devid menuturkan, di tahanan Polsek Bandar Kedungmulyo itu, dia dipukuli. Bajunya dilucuti dan disuruh mengaku bahwa dia telah melakukan pembunuhan terhadap Asrori. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Devid tak tahu apa-apa. Dia awalnya menolak untuk mengakui. Namun, itu justru menambah parah siksaan yang diterimanya. Selama satu minggu, keluarga tidak diperbolehkan menjenguk. ’’Saya baru bisa menjenguk dia saat sudah dipindahkan ke Polres Jombang,’’ kata Rokhanah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Saat ditemui itu, Rokhanah begitu kaget. Wajah putih Devid berganti dengan lebam di seluruh bagian wajahnya. Yang paling kentara adalah lebam di kedua kelopak matanya. ’’Lebam itu sampai sekarang masih ada. Lihat saja di bawah matanya,’’ tutur Sumarlik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Tak hanya itu, Devid seperti kehilangan kesadarannya. Lelaki itu lebih banyak diam ketika ibunya menanyakan apa yang terjadi. ’’Dia seperti <em>leleng</em>. Kalau ditanya jawabannya selalu tidak tahu,’’ kata Rokhanah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=34&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/sering-digebuki-polisi-devid-stres/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8840ed30a05c01ba96867f93472af391?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemat Minta Maaf Cokot Sugik</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/kemat-minta-maaf-cokot-sugik/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/kemat-minta-maaf-cokot-sugik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 15:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desperatejournalist</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ryan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kasus pembunuhan Asrori masih simpang siur. Sejak Very Idham Henyansyah mengaku mayat di belakang rumahnya adalah Asrori, bola liar semakin menggelinding. Salah satunya adalah dugaan salah tangkap dan penyiksaan yang dilakukan Polsek Bandar Kedungmulyo terhadap Imam Chambali, Devid Eko Prianto, dan Maman Sugiyanto. Berikut kesaksian istri Maman Sugiyanto, Ratna Kulsum. Maman Sugiyanto, kata Ratna, keluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=29&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Kasus pembunuhan Asrori masih simpang siur. Sejak Very Idham Henyansyah mengaku mayat di belakang rumahnya adalah Asrori, bola liar semakin menggelinding. Salah satunya adalah dugaan salah tangkap dan penyiksaan yang dilakukan Polsek Bandar Kedungmulyo terhadap Imam Chambali, Devid Eko </span></strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><strong>Prianto, dan Maman Sugiyanto. Berikut kesaksian istri Maman Sugiyanto, Ratna Kulsum.</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><strong></strong> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><span id="more-29"></span>Maman Sugiyanto, kata Ratna, </span><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">keluar masuk tahanan kepolisian hingga tiga kali. Ibu satu anak itu menuturkan, suaminya kali pertama ditangkap pada pertengahan Oktober 2007. Saat itu bulan puasa. Pukul 23.00, Maman dibawa ke kantor Polsek Bandar Kedungmulyo saat sedang berada di tempat tinggalnya di desa Kalang Semanding, dusun Kalangan, Perak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Di tahanan Polsek, Maman dipukuli. Bahkan, punggung bapak satu anak itu dipukul dengan kursi dari kayu. Dia juga dipaksa mengaku memiliki keterlibatan dengan pembunuhan Asrori. Namun, lelaki yang biasa dipanggil Sugik itu tak bergeming. ’’Akhirnya dia dilepas sama polisi. Katanya tak cukup bukti,’’ ujar Ratna.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Penangkapan kedua terjadi beberapa hari setelah lebaran. Bahkan, saat itu, sanak saudara Sugik dan Ratna masih berkumpul di rumah. Saat masih Sholat Ashar, petugas dari Polsek Bandar Kedungmulyo kembali datang. Mereka hendak membawa Sugik. ’’Kakak saya lalu bilang akan mengantarkan Sugik kalau dia sudah datang,’’ katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Pukul 16.00, Sugik diantar ke Polsek Bandar Kedungmulyo. Di sana, dia kembali dipaksa mengaku keterlibatannya dalam pembunuhan Asrori. Sugik tetap pada pendirianya. Dia tak bergeming. Salah seorang petugas kemudian menantang Sugik untuk bertemu dengan Devid dan Kemat yang sudah terlebih dahulu ditahan. ’’<em>Koen</em> <em>wani ta tak temukno karo konco-koncomu</em>,’’ tutur Ratna menirukan penuturan suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Sugik pun dipertemukan dengan kedua rekannya itu. Saat Sugik datang, Kemat tiba-tiba bersimpuh di depan Sugik sambil menangis. Dia meminta maaf kepada Sugik karena telah mengatakan kepada polisi bahwa dia terlibat. Kemat berkali-kali mengatakan bahwa dia dipaksa. </span><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">’’Aku <em>digepuki </em>aku <em>gak </em>kuat,’’ tutur Ratna menirukan perkataan Kemat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Kemat memang bukan sekadar rekan Sugik. </span><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Lelaki pemilik salon itu masih saudara jauh Sugik. </span><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Karena itu, Sugik tidak lantas marah kepada lelaki yang dikenal <em>lembeng </em>itu. Apalagi, di sekitar mereka, petugas kepolisian bersenjatakan lengkap mengelilingi ketiganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Penahanan Sugik hanya bertahan dua hari. Dia tak mudah mengaku terlibat dalam pembunuhan itu. Malam kedua penahanannya, Sugik minta dijemput istrinya. Sebab, dia kembali dikeluarkan karena tak cukup bukti. ’’Tapi, karena koran dan media sudah kadung menulis Sugik ditahan, pembebasannya menunggu besoknya,’’ tutur Ratna.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Esoknya, Sugik harus menandatangani berbagai macam surat-surat administrasi. Terutama surat tidak akan menuntut pihak kepolisian. Karena ingin segera bebas, Sugik tak berpikir panjang. Dia tandatangani saja surat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Penangkapan ketiga terjadi pada Mei. Kata Ratna, jalannya persidangan membuat Sugik harus kembali merasakan pengapnya ruang tahanan. Sebab, Kemat dan Devid kembali menyebut dia terlibat dalam pembunuhan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=29&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/09/02/kemat-minta-maaf-cokot-sugik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8840ed30a05c01ba96867f93472af391?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bingungnya Jadi Wartawan</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/06/11/bingungnya-jadi-wartawan/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/06/11/bingungnya-jadi-wartawan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 16:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desperatejournalist</dc:creator>
				<category><![CDATA[rehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;Ketika masih menjadi reporter, tiap malam saya selalu gelisah. Pikiran saya melayang memikirkan tentang berita apa yang akan saya tulis besok. Saya menerawang, mencari-cari ide, membuka-buka berita- berita lama,&#8221; tutur redaktur senior ketika kami berbincang, sesaat setelah deadline. Saya mendengarkan, penuh perhatian. Redaktur senior yang sebenarnya sudah pensiun ini sudah terkenal karena kebijaksanaannya. Tak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=14&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><img style="vertical-align:middle;" src="http://l.yimg.com/img.tv.yahoo.com/tv/us/img/site/06/72/0000000672_20060919022109.jpg" alt="jurnalis" width="360" height="271" /> </p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8221;Ketika masih menjadi reporter, tiap malam saya selalu gelisah.<br />
Pikiran saya melayang memikirkan tentang berita apa yang akan saya<br />
tulis besok. Saya menerawang, mencari-cari ide, membuka-buka berita-<br />
berita lama,&#8221; tutur redaktur senior ketika kami berbincang, sesaat<br />
setelah deadline.</span></p>
<p><span id="more-14"></span>Saya mendengarkan, penuh perhatian. Redaktur senior yang sebenarnya<br />
sudah pensiun ini sudah terkenal karena kebijaksanaannya. Tak ada<br />
dari kami, wartawan baru, yang tidak mengaguminya. Ia begitu piawai<br />
mengarahkan tulisan kami sebagaimana ia kerap memberikan gambaran<br />
bagaimana menjadi seorang jurnalis handal.</p>
<p>&#8221;Saya murid langsung Pak Dahlan. Jadi saya mengenal betul bagaimana<br />
membuat tulisan yang menarik,&#8221; terangnya suatu ketika. Saat itu, ia<br />
sedang menyunting tulisan saya tentang pembantu yang<br />
mengkuti &#8220;kuliah&#8221; singkat.</p>
<p>Ia tidak berniat sombong dengan berkata seperti itu. Ia justru<br />
memberi alternatif tulisan yang memanjakan pembaca: tidak terlampau<br />
panjang dan mengalir dalam runtutan ide-ide. &#8221;Itu seperti gaya Pak<br />
Dahlan dalam menulis,&#8221; kata seseorang lainnya.</p>
<p>&#8221;Tiap hari, coba baca berita-berita terakhir. Cari apa yang belum<br />
dibahas wartawan lainnya,&#8221; lanjutnya sambil meraba bagian atas<br />
kepalanya. Rambutnya mulai tipis memang. Tapi tidak sampai botak.<br />
Malah, untuk orang seusianya, rambutnya bisa dikatakan normal.</p>
<p>Bagi kami wartawan baru, bekerja di media memang mimpi indah anak-<br />
anak aktivis kampus. Menenteng kamera, menyodorkan perekam, mencatat<br />
kata-kata narasumber dalam block note, menyodorkan pertanyaan-<br />
pertanyaan kritis adalah bayangan yang tergambar kala itu. &#8221;Kalau<br />
ketemu polisi yang lagi operasi, sodorkan saja kartu pers,&#8221; seloroh<br />
salah satu teman yang bergurau soal keuntungan menjadi wartawan.</p>
<p>Tapi, dunia wartawan tidak seromantis itu. Seringkali malah menguji<br />
mental bagi para pekerjanya. Belum lagi tekanan &#8220;atas-bawah&#8221; yang<br />
saling menimpali.</p>
<p>Betul kata redaktur senior itu. Tiap malam, seorang reporter pasti<br />
gelisah. Pikirannya kalut. Padahal, ini koran harian. Setiap hari<br />
harus selalu ada berita. Kalau hari ini tidak ada ide, besok malah<br />
jadi malapetaka. Kegelisahan bahkan bisa mencapai ubun-ubun kalau<br />
dibiarkan. Cita-cita menjadi jurnalis akhirnya terbentur kenyataan<br />
yang benar-benar tidak &#8220;romantis&#8221;.</p>
<p>Menenteng kamera, menyodorkan perekam, mencatat kata-kata narasumber<br />
dalam block note, menyodorkan pertanyaan-pertanyaan kritis&#8230; Ah,<br />
itu kerjaannya wartawan kampus. Kenyataannya justru lebih dari itu:<br />
menantang segala yang kita punya, fisik, mental, pikiran, dan lain<br />
sebagainya.</p>
<p>Malam ini saya gelisah. Belum ada ide untuk berita besok. Apalagi,<br />
pos baru di kesehatan masyarakat membuat saya harus segera belajar<br />
banyak dan cepat. Satu orang wartawan baru sudah mengundurkan diri.<br />
Sudah lebih dari satu orang yang mengeluh dengan pekerjaan ini.<br />
Beberapa sudah berancang-ancang untuk pulang kampung. Ada juga yang<br />
melirik media lain.</p>
<p>Saya gelisah, kami gelisah, bukan saja karena produktifitas yang<br />
terus menurun, tapi juga bayangan-bayangan mimpi itu mulai mengabur.<br />
Luntur oleh hujan yang menandai pergantian tahun. Tepat ketika bumi<br />
merayakan imlek. Gong xi fa choi, tahun tikus tanah, sukseskah?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> <a href="mailto:agung.absolution@gmail.com">agung.absolution@gmail.com</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=14&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/06/11/bingungnya-jadi-wartawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8840ed30a05c01ba96867f93472af391?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://l.yimg.com/img.tv.yahoo.com/tv/us/img/site/06/72/0000000672_20060919022109.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paradoks Nasib Wartawan</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/06/11/paradoksnasib-jadi-wartawan/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/06/11/paradoksnasib-jadi-wartawan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 15:44:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desperatejournalist</dc:creator>
				<category><![CDATA[rehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah bincang-bincang setelah deadline berakhir, seorang redaktur bercerita tentang profesi yang sedang kami geluti. Ia tidak hendak menggurui kami, para siswa jurnalistiknya, tentang apa itu jurnalisme dan bagaimana menulis yang baik. Ia pun tak berkoar tentang masa susah peliputan sebagaimana wartawan pongah lainnya: dipertontonkan sebagai prestasi yang layak beroleh kagum. Ia sekadar bergumam tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=11&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float:left;border-color:#000000;border-style:solid;border-width:1px;margin:6px;" src="http://scienceblogs.com/clock/journalist.jpg" alt="Journalist" width="145" height="200" /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam sebuah bincang-bincang setelah deadline berakhir, seorang redaktur bercerita tentang profesi yang sedang kami geluti. Ia tidak hendak menggurui kami, para siswa jurnalistiknya, tentang apa itu jurnalisme dan bagaimana menulis yang baik. Ia pun tak berkoar tentang masa susah peliputan sebagaimana wartawan pongah lainnya: dipertontonkan sebagai prestasi yang layak beroleh kagum. Ia sekadar bergumam tentang kecintaan pada pekerjaan.’’Saya mencintai jurnalistik sebagai seorang manusia,’’ katanya diikuti helaan nafas panjang. ’’Sebagaimana kita mencintai seseorang. Kita menyukai sifat-sifat orang tersebut. Tapi, pada saat yang sama, kita mendapati tak sedikit pula sifatnya yang kita benci,’’ imbuhnya. Kami tercenung, menunggu guru jurnalistik kami yang baru pulang dari tugas liputan di Jordan itu melanjutkan kata-katanya.</p>
<p><span id="more-11"></span>’’Begitulah saya mencintai jurnalistik. Saya menyukai dunianya dan saya pun harus berkompromi dengan kekurangan-kekurangannya. Tapi, saya tetap mencintainya sebagai sebuah profesi yang senantiasa menjunjung kejujuran dalam prakteknya,’’ terangnya sambil menyeruput kuah mie instan rasa kari ayam.</p>
<p>Kami berpandangan satu sama lain. Tak ada yang berani memotong ucapan redaktur yang terkenal rendah hatinya itu. Pramuniaga datang membawa kopi pesanan. Baunya semerbak bercampur kepulan asap rokok.</p>
<p>Redaktur itu menelan ludah. Mie sudah tandas. Ia terbatuk. ’’Begitupun ketika kita bersinggungan dengan pihak manajemen. Terkadang, terjadi kontras yang begitu akut. Kita memperjuangkan hak orang-orang tertindas, tapi kita tak berdaya memperjuangkan hak kita sendiri,’’ tuturnya, kali ini sambil menyulut rokok Sampoerna Mild yang sedari tadi dipegangnya.</p>
<p>’’Menjadi wartawan itu pekerjaan berat. Fisik dipaksa selalu fit. Pikiran dituntut cerdas. Data tidak boleh hanya mengandalkan nara sumber. Belum lagi akurasi yang terus dikejar.’’</p>
<p>’’Tapi, di kantor, kita harus berhadapan dengan redaktur yang galak. Mereka menuntut ini itu, harus selalu dituruti. Tak jarang mereka pun mengubah tulisan yang sudah kita buat maksimal.’’</p>
<p>’’Kita lelah di lapangan. Bertemu nara sumber yang pelit informasi. Bahkan namanya pun tak mau disebut. Belum lagi, pandangan miring mereka yang merasa bisa membeli tulisan kita dengan sejumlah uang.’’</p>
<p>’’Pihak manajemen selalu menuntut kita lebih. Upaya yang maksimal dianggap biasa-biasa saja. Gaji habis untuk operasional lapangan: bensin—yang semakin naik harganya, makan, minum, pulsa&#8230;’’</p>
<p>’’Kita berkuasa di depan terdakwa. Mentertawakan nasib mereka dengan tulisan yang lebih mirip lelucon daripada iba. Di depan moncong senjata, kita pun masih berani mengepalkan tangan. Memori dalam kamera dihapus aparat saja Kapolri minta maaf. Seolah itu persoalan yang mengancam negara.’’</p>
<p>’’Tapi, kita tetap terpekur dengan birokrasi perusahaan. Tak ada yang berani melawan. Kita dipaksa tunduk. Ini memang soal penghidupan. Pragmatis memang, tapi ada yang berseloroh ini realistis.’’</p>
<p>Handphone redaktur berbunyi. Ia mengambilnya dari saku dan melihat di layar monochrome telepon selulernya: Panggilan tak terjawab. ’’Saatnya pulang,’’ pungkasnya.</p>
<p>Ketika ia pergi, kerumunan wartawan baru ini pun ramai. Ada yang tersenyum, tak jarang pula yang melanjutkan minum kopinya. Aku terdiam beberapa saat. ’’Tak ada yang salah dari ucapannya,’’ kataku dalam hati. ’’Ini hanya soal pilihan hidup. Tak ada pilihan yang tidak membawa konsekuensi.’’</p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tiba-tiba aku teringat. Redaktur itu pernah mewanti-wanti, ’’Sebelum jadi wartawan, pastikan kalian sudah punya pacar.’’ Kok bisa? ’’Kalau sudah jadi wartawan susah cari jodoh.’’ Wadoh, tidak!</p>
<p></span></span></p>
<p><a href="mailto:agung.absolution@gmail.com">agung.absolution@gmail.com</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=11&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/06/11/paradoksnasib-jadi-wartawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8840ed30a05c01ba96867f93472af391?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://scienceblogs.com/clock/journalist.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Journalist</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harmoko dan Kacang Garing Bernama Golkar</title>
		<link>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/04/22/harmoko-dan-kacang-asin-bernama-golkar/</link>
		<comments>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/04/22/harmoko-dan-kacang-asin-bernama-golkar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 05:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>desperatejournalist</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalishumanis.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Harmoko mendeklarasikan Partai Kerakyatan Nasional (PKN), ramai-ramai orang mencibir, baik dari koleganya di Partai Golkar maupun pengamat politik. Mereka sangsi dan apatis dengan mantan Menteri Penerangan RI itu. Tapi, munculnya Harmoko justru menunjukkan betapa Partai Golkar telah mengusung strategi baru berpolitik. Apatisme para politikus memang tampak nyata. Lihat saja Ketua DPP Partai Golkar Firman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=8&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float:left;border-color:#000000;border-style:solid;border-width:1px;margin:6px;" src="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/h/harmoko/harmoko.jpg" alt="Harmoko" width="145" height="200" /></p>
<p>Ketika Harmoko mendeklarasikan Partai Kerakyatan Nasional (PKN), ramai-ramai orang mencibir, baik dari koleganya di Partai Golkar maupun pengamat politik. Mereka sangsi dan apatis dengan mantan Menteri Penerangan RI itu. Tapi, munculnya Harmoko justru menunjukkan betapa Partai Golkar telah mengusung strategi baru berpolitik.</p>
<p>Apatisme para politikus memang tampak nyata. Lihat saja Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo. Bahkan, dia mengatakan Harmoko mestinya merasa risih (harian Jawa Pos edisi 21/4). Apalagi, keanggotaannya di Partai Golkar secara otomatis gugur karena aturan tidak boleh menjadi anggota partai lain.</p>
<p><span id="more-8"></span>Tak hanya itu, salah satu pengamat politik di Indo Barometer meragukan komitmen Harmoko pada kaum muda seperti yang disampaikan saat deklarasi PKN di Gedung Joeang, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (19/4).</p>
<p>Pemberitaan beberapa media pun lebih pada pertentangan antara Harmoko dan Partai Golkar. Harian Jawa Pos mengetengahkan isu bahwa pendirian PKN tak ada kaitannya dengan kekecewaan Harmoko pada Partai Golkar. Sementara itu, Harian Kompas lebih pada meragukan komitmen Harmoko memberi peluang generasi muda. Namun, tak banyak yang ’’menguliti’’ kemungkinan munculnya PKN sebagai sebuah strategi politik.</p>
<p>Barangkali, hal ini bisa dilihat pada Pilgub Jawa Timur. Calon dari Partai Golkar hadir di dua pasangan sekaligus, yakni Ridwan Hisjam sebagai pasangan Sutjipto dan Soenarjo dengan Ali Maschan Musa. Dengan sendirinya, Partai Golkar bermain dengan dua gacoan. Ridwan Hisjam sebagai cawagub dan Soenarjo sebagai cagub.</p>
<p>Alhasil, kemungkinan kalah bagi Partai Golkar lebih sedikit dibanding partai lain yang hanya menjagokan satu pasangan. Apalagi, keduanya bertempur dengan mesin politik yang sama-sama ’’on-fire’’. ’’Ibaratnya, Partai Golkar itu menang kalah, tetap nyerek (dari bahasa Jawa yang berarti meraup keuntungan dari permainan judi),’’ kata salah seorang aktivis partai.</p>
<p>Bisa jadi, hal itulah yang sekarang terjadi pada PKN. Di permukaan, orang memang ramai-ramai mengecam. Tapi, bisa jadi, itu hanya strategi partai berlambang beringin itu untuk menggarap segmen pemilih yang tak bisa diraup Partai Golkar. PKN dibuat hanya untuk menggaet massa mengambang yang biasanya tak banyak pertimbangan soal pilihan partai.</p>
<p>Hal ini seperti yang terjadi pada strategi penjualan barang. Pada produk kacang garing misalnya. Ketika kacang garing kualitas A yang sudah mapan dengan pembeli tertentu, pembeli kacang garing kualitas B pun harus digaet dengan meluncurkan produk baru. Ini agar pembeli kacang garing tidak jatuh ke merek lainnya. Kemasan, pencitraan, dan kualitas  kacang garing bisa lain, tapi produsennya tetap Dua Kancil!</p>
<p>Lihat saja komentar Harmoko, ’’Kami tetap menghormati Partai Golkar. Siapa tahu nanti ada kesempatan berkoalisi seperti Barisan Nasional di Malaysia,’’ ujarnya seperti dikutip harian Jawa Pos (20/4).</p>
<p>agung.absolution@gmail.com</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalishumanis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalishumanis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalishumanis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalishumanis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalishumanis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalishumanis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalishumanis.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalishumanis.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalishumanis.wordpress.com&amp;blog=2966758&amp;post=8&amp;subd=jurnalishumanis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalishumanis.wordpress.com/2008/04/22/harmoko-dan-kacang-asin-bernama-golkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8840ed30a05c01ba96867f93472af391?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Agung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/h/harmoko/harmoko.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Harmoko</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
